Wawancara gus dur

Berikut petikan hasil wawancara Majalah Tiara bersama Gus Dur yang terangkum dalam buku Tabayun Gus Dur, LKiS-Yogyakarta, hal 173-174._

*Gus, Siapa tokoh Indonesia yang Anda kagumi?*

Yah tergantung bidangnya. Dalam politik saya kagumi Bung Karno untuk semangat kebangsaannya, kecintaannya pada bangsa ini begitu kelihatan. Bung Hatta saya kagumi untuk sikap demokratisnya, dia betul-betul seorang demokrat, kompeten, kemampuannya tinggi. Syahrir untuk pandangannya yang jauh ke depan _(diucapkan dengan mimik yang serius, tangannya dijulurkan ke depan seolah menggapai sesuatu)_. Agus Salim, Tan Malaka, dengan kerakyatannya. Dia tak mengenal putus asa untuk memperjuangkan nasib rakyat. Ayah saya dekat lho dengan Tan Malaka. Dekat secara pribadi. Dalam biografinya, Tan Malaka pakai nama samaran Husein untuk ketemu ayah saya, karena dikejar Jepang.

*Apa yang Anda kagumi dari Ayah?*

Yah karena jasanya yang tidak semua bisa diungkapkan, tapi saya rasa yang paling krusial mengenal  Pancasila, soal Jakarta Charter. Mungkin dia yang bisa meyakinkan yang lain-lainnya, sudahlah _nggak_ usah pakai Jakarta Charter, sebab dia punya argumentasi yang lengkap mengenai itu yang akhirnya dipakai oleh NU. Selain itu orangnya necis, saya cukup dekat dengannya, saya sering diajak pergi. Yang paling berkesan pada ayah soal disiplinnya _(pembicaraan segera beralih ke soal bola karena ada gol)_.

*Anda bangga bertemu dengan pejabat luar negeri?*

Ah, sama-sama manusia kok. Kebanggaan saya itu yah, sedikit sekali ya. Diantaranya yang membuat saya bangga itu ketika seorang pendeta Hindu dari India Swami Shanti Prakash datang ke sini. Lantas semua India di Pasar Baru, umatnya, mereka semua kumpul duduk melingkar mengelilingi pendeta. Swami Shanti Prakash sendiri duduk di singgasana yang agak tinggi yang semuanya dibuat dari kembang. Ketika Dirjen Hindu Budha, Diputre datang dia tetap duduk saja. Lalu semua orang pada mencium tangannya, Prakash sendiri matanya buta dan berusia 80 tahun. Nah, sewaktu saya datang, dia dibisiki oleh pembantunya, dia langsung berdiri, semua _(diucapkan dengan tekanan suara yang dalam, tangan kanannya direntangkan ke samping seolah-olah menggambarkan banyaknya hadirin)_. Dia berdiri kemudian merangkul saya. Apa katanya? Dia menitipkan umat Hindu di sini pada saya.

*Kok bisa begitu?*

Nah itulah, orang minoritas juga ‘kan punya hak. Swami Shanti Prakash kenal saya lewat laporan anak buahnya. Tapi juga artinya sebagai orang buta dia punya mata hati. Ketika dia masuk, kontak batinnya itu lho _(tangannya ditempelkan ke dada)_ pada saat itu saya merasa bangga sekali diterima sebagai warga umat manusia. Rasanya nggak sia-sia hidup ini, ditentang jutaan orang juga biarin saja, yang satu ini bagi saya lebih penting dari yang lain-lain. Dia itu termasuk dari 20 orang pendeta yang tiap tahun kakinya dicuci oleh Presiden India sebagai air susu. Setiap hari dia memberi makan tiga juta orang, di seratus delapan candi yang dikelolanya. Dari dermanya orang kaya dikumpulkan, dipakai buat beli makanan. Coba bayangkan manusia yang begini apa bukan manusia yang mulia? Dia menerima saya sebagai saudaranya itu kan bukan main.

Komentar