LEGENDA ASAL USUL NAMA BOJONEGORO
Pada zaman dahulu kala, di sebelah utara Gunung Kendeng berdiri sebuah kerajaan bernama Malowopati. Rajanya bergelar Prabu Anglingdarma. Ia seorang raja yang arif dan bijaksana serta kaya raya. Wajahnya tampan. Ia suka bertapa dan berkelana mencari pencerahan jiwa. Tak heran jika ia termasuk seorang raja yang disegani oleh kawan maupun lawan karena kelebihan dan kesaktian yang dimilikinya. Konon, Prabu Anglingdarma juga dikaruniai anugerah untuk mengerti dan mengetahui bahasa semua binatang.
Ketika Anglingdarma masih berusia muda, ia senang keluar masuk desa. Banyak negeri yang disinggahinya. Semua itu ia lakukan demi menambah wawasan, ilmu pengetahuan, dan pengalaman hidup.
"Aku tak akan mengambil seorang istri kecuali titisan dari Dewi Widowati," katanya dalam hati.
Anglingdarma terus mengembara, menuruti kata hatinya. Pada suatu waktu, ia berjumpa dengan seorang putri cantik jelita, mengenakan selendang sutra ungu, kembang beludru, dan kebaya sutra kesumba.
"Hai, Nimas siapa namamu?" tanya Anglingdarma.
Anak itu tak menjawab. Ia tersipu malu, kemudian beranjak pergi meninggalkan Anglingdarma.
"Nimas, tidakkah Nimas mau berkenalan denganku?" tanya Anglingdarma sambil mengikuti jalannya dari belakang.
Ia tampak semakin gemas. Dicubitnya anak gadis itu. "Dimas tolong aku!" teriak anak gadis itu. (dimas = dinda = adik)
Tiba-tiba, datanglah pemuda tampan yang usianya hampir sebaya dengan Anglingdarma.
"Hai, Kisanak siapa namamu?"
"Namaku Anglingdarma. Siapa namamu?"
"Namaku Batikmadrim."
"Sebuah nama yang bagus," kata Anglingdarma.
"Apakah engkau suami gadis ini?" sambung Anglingdarma.
"Bukan. Aku bukan suaminya."
"Lalu apa hubunganmu dengan gadis ini?"
"Dia adalah kakak perempuanku," jawab Batikmadrim.
Anglingdarma tersenyum simpul seolah-olah tak percaya kata-kata Batikmadrim.
"O, ya? Benarkah ia kakak perempuanmu?"
"Benar, dia kakak perempuanku."
"Kau tidak berbohong bukan?"
"Selama ini, aku belum pernah berbohong kepada siapa pun."
"Maafkan aku kalau tadi aku menggoda kakakmu. Perlu kau ketahui pula, aku sebenarnya mencintai kakakmu."
"Apa? Kau mencintai kakakku? Sudahkah kaupikirkan kata-katamu?"
"Ya, aku sangat mencintai dia!"
"Engkau boleh saja mencintai kakakku asalkan kau dapat mengalahkanku!" kata Batikmadrim.
"Sombong benar pemuda ini!" gumam Anglingdarma.
"Bagaimana? Engkau berani melayani tantanganku?"
"Baiklah, tantanganmu kuterima!"
Sesaat kemudian, keduanya telah terlibat dalam pertarungan adu kesaktian lahir dan batin. Dalam pertarungan itu, Anglingdarma mengalahkan Batikmadrim.
"Bagaimana Batikmadrim? Apakah engkau telah mengakui kekalahanmu?"
"Ya, secara kesatria dan jujur, aku mengakui kemenanganmu atas diriku. Oleh sebab itu, aku rela mengabdi pada dirimu."
Anglingdarma merasa terharu dengan kejujuran dan kesetiaan Batikmadrim.
"Batikmadrim, ketahuilah siapa diriku sebenarnya. Aku adalah raja dari Kerajaan Malowopati."
"Oh, Prabu maafkan diriku. Sungguh aku tak tahu. Sekali lagi, aku minta maaf atas kelancanganku."
"Sudahlah Batikmadrim. Sebenarnya aku tahu siapa dirimu. Oleh sebab itu, sejak tadi aku telah memaafkanmu. Aku merasa bangga dengan keberanianmu dan janji setiamu itu akan kuterima. Engkau tak hanya kujadikan seorang abdi, tetapi akan kuangkat menjadi seorang mahapatih di Malowopati."
"Terima kasih Prabu. Baktiku hendak kupersembahkan bagi bangsa, negara, dan keharuman nama Paduka."
"O, ya siapa nama kakakmu ini?"
"Kakak, engkau ditanya Sang Prabu. Jawablah dengan senang hati."
"Bukankah yang ditanya itu Dimas? Dimas saja yang menjawab."
"Namanya Dewi Setyowati, Prabu," jawab Batikmadrim.
"Bagaimana menurut pendapatmu seandainya aku mengambilnya sebagai istri?"
"Mohon maaf, Prabu. Sebaiknya, Prabu berkenan melamarnya pada Ramanda Resi."
Anglingdarma menuruti nasihat Batikmadrim. Mereka bertiga sepakat untuk menemui Sang Resi di padepokan.
Sesampainya di padepokan, Sang Resi menyambut Anglingdarma dengan senang hati. Ketika Anglingdarma menyampaikan maksudnya hendak melamar Dewi Setyowati, Sang Resi pun merestui dan mempersilakan Anglingdarma untuk memboyong putrinya, Dewi Setyowati.
Pesta pernikahan Prabu Anglingdarma dengan Dewi Setyowati berlangsung meriah. Semakin lama cinta mereka juga semakin bertambah.
Pada suatu malam, dua ekor cicak terlibat dalam percakapan akrab.
Ketika api telah berkobar, Dewi Setyowati melompat ke dalam api
"Hai, cicak betina! Lihatlah Prabu Anglingdarma dan Dewi Setyowati. Mereka pasangan yang serasi. Rasanya aku ingin seperti mereka!" kata cicak jantan.
"Cicak jantan, janganlah engkau bodoh! Tak mungkin kita bisa menjadi bangsa manusia!" kata cicak betina.
Anglingdarma yang mendengar percakapan kedua cicak itu tertawa terpingkal-pingkal. Dewi Setyowati kaget dibuatnya. Ia merasa tersinggung dengan ulah Anglingdarma.
"Mengapa Kanda tertawa sendirian? Kanda sedang menertawakan diriku?" tanya Dewi Setyowati.
"Tidak! Aku tidak sedang menertawakan dirimu, Dinda. Tetapi, coba lihatlah kedua cicak di dinding itu!" kata Anglingdarma.
"Ada apa dengan dua ekor cicak itu?"
"Mereka iri pada kita!"
"Dari mana Kanda tahu, mereka iri pada kita?"
"Aku tahu bahasa mereka, bahkan seluruh bahasa binatang di dunia ini."
"Oh, Kanda. Kalau begitu Dinda mohon, ajarilah Dinda supaya Dinda tahu bahasa mereka seperti Kanda."
"Maafkan aku Setyowati. Terpaksa aku tak dapat meluluskan permintaanmu karena ilmu ini tak boleh diketahui oleh siapa pun termasuk dirimu selain Kanda sendiri."
"Sekarang aku tahu. Kanda tak mencintai aku lagi."
"Janganlah berkata seperti itu."
"Buktinya, Kanda tak mau mengajariku bahasa binatang itu. Oh, Kanda Prabu. Kalau Kanda Prabu tetap tak memperbolehkan diriku untuk menguasai bahasa binatang itu lebih baik aku mati obong (mati dengan cara memasuki api yang sedang berkobar-kobar). Untuk apa hidup kalau tak dapat merasakan bahagia seperti Kanda Prabu," kata Dewi Setyowati menakut-nakuti Anglingdarma.
Berulang kali Anglingdarma memberi pengertian, menasihati, dan mengingatkan Dewi Setyowati. Namun, Dewi Setyowati tetap pada pendiriannya hendak mati obong. Akhirnya, dengan berat hati Anglingdarma menuruti kehendak Dewi Setyowarti yang hendak mati obong.
Semua peralatan yang hendak digunakan mati obong oleh Dewi Setyowati telah dipersiapkan. Para brahmana suci mengelilingi perapian sambil memanjatkan doa-doa semoga roh Dewi Setyowati diselamatkan oleh Hyang Mahaagung.
Ketika api telah berkobar, Dewi Setyowati melompat ke dalam api. Meski tubuhnya hangus terbakar, rohnya diselamatkan oleh Hyang Mahaagung dan kelak bisa menitis menjadi wanita utama yang akan menjadi istri Anglingdarma.
Meskipun Dewi Setyowati telah mati obong, kesuciannya tetap terjaga. Anglingdarma menyebutnya sebagai "Ibu Negara" atau Bojonegara, artinya 'seorang kekasih yang setia'. Dewi Setyowati tak hanya istri setia Anglingdarma, tetapi telah menjadi "Istri Negara" atau Bojonegoro.
Komentar
Posting Komentar