Perempuan Itu Leni
Oleh: Kusaeri, S. Pd.
Malam ini datangnya agak melambat, sinar kelabu sore melantuni bayangan hitam panjang-panjang ke arah timur. Perempuan itu terlindung duduk di pinggir jalan dekat stadion. Terlihat jelas dia tersinari cahaya matahari sore. Perawakannya manis, kelihatannya dia kalem dan sabar. Buktinya sedari pagi tadi dia belum beranjak dari atas bongkahan bekas beton jembatan yang dibongkar beberapa waktu lalu, di sanalah tempat yang dia singgahi penuh kesabaran menanti kedatangannya.
“Lupakah dia pada hari ini?” gumamnya temani kesendirian. Lalu-lalang kendaraan tak menghiraukan.
Sejuknya jejeran palm di sekitar menambah ketenangan hati perempuan yang sebenarnya tak pantas menyendiri pada saat seusianya, umurnya masih 20 tahun. Tapi sore ini dia belum jenuh menunggu seseorang yang setiap tanggal 10 April mengunjunginya, namun tidak dengan hari ini.
Tanggal 10 April tahun ini sebenarnya merupakan hari yang dia tunggu-tunggu, hari dimana dia dilahirkan 20 tahun yang lalu, setahun yang lalu dia pernah mendapati janji dari seorang yang belakangan diketahui adalah kekasihnya. “kelak, ketika umurmu genap 20 tahun, aku akan menikahimu” kata laki-laki kekasihnya tempo setahun lalu.
Nah, pagi ini dia ingin menagihnya, tapi pada siapa? “Mas, permisi, Kenal sama Dion?” Tanya Perempuan itu pada setiap kali orang yang kebetulan lewat di hadapannya. “hello, mbak, mbak kenal mas Dion? Itu loh orangnya pinter, ganteng, gagah, tinggi, wah pokoknya keren gitu”
Namun entah orang-orang itu tidak kenal atau pura-pura tidak mengenal, mereka seakan-akan acuh tak acuh, tidak satupun yang mau menjawabnya. Sungguh usaha yang sia-sia.
Tapi Perempuan itu tidak patah arang, setelah usahanya gagal dengan Tanya sana-sini tidak ada yang peduli, beranjak pula dia dari tempat duduknya, pakaian kebaya yang melekat di badannya menampakkan dia adalah perempuan jawa dari desa yang santun. Lihat saja saat dia diacuhkan oleh orang-orang, tidak ada umpatan atau omelan yang keluar dari mulutnya.
Kini dia mencoba mencari peruntungan dengan mengelilingi sekitar stadion, barang kali keberuntungan menghampirinya, mungkin saja ada yang bisa membantunya kali ini untuk dapat menemukan seseorang yang sedang dia nanti.
Sambil menjulurkan tangan yang sedang memegang sebuah foto seseorang, perempuan itu kembali bertanya, kali ini dia menjumpai seorang ibu yang sedang berolah raga bersama suami dan anaknya yang masih kecil sedang jogging mengitari stadion. “permisi ibu, bolehkah saya minta bantuannya?” Tanya perempuan itu memulai percakapan.
“iya, ada apa ya dik?” jawab ibu itu ramah.
“ini bu, saya sedang mencari seseorang, namanya Dion, saya lupa nama lengkapgnya, tapi dia bilang rumahnya sekitar stadion ini, tapi saya juga lupa nomer berapa rumahnya” Perempuan itu berhenti sejenak seraya menarik nafas, kemudian melanjutkan perbincangannya “ini saya bawa fotonya, apa ibu kenal dengan orang ini, maksud saya Mas Dion, ya dia itu Kekasih saya”
Ibu itu hanya tersenyum kecut, beberapa saat dia berlalu setelah bilang “maaf dik, saya tidak kenal” lalu diikuti suami dan anaknya meninggalkan perempuan itu.
Sepertinya rasa jenuh juga menghampiri, ingin rasanya dia kembali pulang, akan tetapi dia malu kepada orang-orang di kampungnya, apa kata mereka kalau sampai dia pulang belum bersama Dion, seorang lelaki yang dia ceritakan sebagai calon suaminya itu.
Hingga sore berganti malam perempuan itu belum juga mendapati orang yang dia cari, waktu menunjukkan jam tujuh malam lewat lima belas menit, dia kembali singgah di tempat semula tadi sore dia duduk. Sekarang dia tidak sendiri, karena di sana sudah ada seorang pemuda yang umurnya sekitar 27 tahun yang lebih dulu nongkrong.
“Mas..” sambil menganggukkan kepala isyarat kalau sapaannya penuh kesopanan.
“ya mbak…” Jawab lelaki yang bernama Putra.
“saya Putra” dengan suara tegas memperkenalkan diri, namun yang disapa hanya melongo diam. Seketika Putra menarik lagi tangannya setelah dia julurkan buat mengajak kenalan perempuan itu tanpa ada jawaban.
Sempat merasa malu dan berniat beranjak, tiba-tiba Perempuan itu mengurungkan niat Putra. “Mas Putra rumahnya di sekitar sini?” Tanya Perempuan itu tiba-tiba.
“iya, tapi aku baru sebulan pindah ke kota ini” jawabnya.
“ooh gitu, berarti belum banyak tahu dong tentang sekitar sini?” Tambah Perempuan itu.
“emang mbak ini bukan orang daerah sini?” Putra balik Tanya.
Tanpa mengubris omongan Putra, Perempuan itu menyeloroh lagi “berarti enggak kenal Mas Dion kalo gitu”
“Siapa dia?” Tanya Putra penasaran.
“dia itu kekasih aku, aku sayang banget sama dia, cinta mati pokoknya”
“sekarang dia dimana? Kok enggak bareng?”
“itu dia, aku sudah seharian mencarinya, sudah Tanya-tanya kesana kemari, tapi enggak ada satu pun yang tahu keberadaannya” Perempuan itu memulai kisah kehidupannya yang dialami sepanjang hari ini.
“terus?” Tanya Putra singkat, selain karena bingung, dia juga belum punya ide buat bertanya. Tiba-tiba Perempuan itu terlihat pucat pasi, seketika menampakkan wajah kesedihan.
“oh Mas Dion, tega-teganya meninggalkanku” sepontan Perempuan itu merintih terisak, Putra semakin bingung.
“kenapa kok jadi sedih gini?” Tanya Putra penasaran.
“dia sudah campakkan aku, dua tahun kita pacaran, dua tahun itu pula dia penuh gombal” kali ini diikuti linangan air mata. Tanpa diminta Perempuan itu melanjutkan kisahnya, sementara Putra mengangguk-angguk saja.
Putra tambah kebingungan, saat Perempuan itu mendekatkan tubuhnya, Perempuan itu rebahkan kepalanya di pundak Putra, degap jantungnya kencang. “apa yang dia lakukan?” pikirnya dalam hati. Tanpa komando Putra melingkarkan tangannya ke tubuh Perempuan itu, rasa iba menghampiri Putra.
Sepi tanpa obrolan, keduanya larut dengan suasana hati masing-masing. Belum sempat Putra berucap, Perempuan itu kembali duduk tegak, Putra melepaskan rangkulannya, Perempuan itu melanjutkan kisahnya dan begitu saja melupakan apa yang dia lakukan barusan.
“saat kepanasan aku kipasin dia, ketika kedinginan aku peluk erat-erat, salahku, kenapa saat dia cium keningku, aku nurut saja, lalu dia cium pula pipiku, enggak lama kemudian dia juga mencium bibirku, aku diam saja”
Putra yang di sampinggnya mengernyitkan dahi sampai membentuk beberapa goresan, entah menikmati atau larut akan cerita Perempuan itu, yang jelas tampak kebingungan.
“Tahu apa yang terjadi selanjutnya?” Tanya Perempuan itu yang kemudian dia jawab sendiri “dia ciumi seluruh badanku, dia bilang itu tanda cintanya padaku. Aku bingung, sebenarnya aku sempat menolak, tapi dia melakukannya terus menerus sampai aku juga tak berdaya”
Putra tanpak masih kebingungan, tapi sedikit demi sedikit dia mulai paham, apa sebenarnya yang hendak Perempuan itu curahkan, mungkin dengan sedikit bercerita, perempuan itu akan melepaskan sedikit bebannya, begitu pikirnya Putra.
Yang terjadi selanjutnya malahan sebaliknya, Perempuan itu ternyata punya beban yang tidak sedikit, banyak hal yang dia ceritakann dengan Putra, terutama tentang Dion. Kayaknya waktu semalaman mungkin kurang buat dengerin ceritanya.
“Mas Dion itu pandai bergaul, kawannya banyak, dia juga suka berbagi dengan kawan-kawannya itu” Perempuan itu terus saja melanjutkan ceritanya, Putra yang tidak mau mengecewakannya tetap setia menjadi pendengar yang baik. Tiba-tiba Perempuan itu menangis meronta, Putra tampak panik, rasa takut bercampur, khawatir disangka melakukan hal-hal tak senonoh, tiba-tiba jeritan itu terhenti.
“Kenapa dia tega membagi aku dengan kawan-kawannya?” kata Perempuan itu dengan sedikit berteriak.
“apanya yang dibagi?” Tanya Putra. Perempuan itu lalu menunjukkan jari telunjuk tangan kanan dan kirinya, kemudian menempelkannya keduanya berulang-ulang sebanyak tiga kali.
“ingin rasanya aku mencekik mereka semua, ya, mereka bertiga. Mereka lakukan bergantian, awas kalo sampai ketemu, tak cabik-cabik mukanya” tangan Peremuan itu diangkat setinggi dada, jari-jarinya seolah-olah siap menerkam siapa saja yang ada di depannya, mukanya juga mempertontonkan wajah seram.
“tapi, kalo Mas Putra mau kayak mereka, aku tak akan sekejam itu”
“maksudnya?”
“dengan senang hati aku menerima belayan mas Putra”
Mendengar jawaban Perempuan itu, Putra langsung beranjak, cepat-cepat dia pulang ke rumahnya yang hanya 50 meter dari tempat mereka berbincang.
Selang tiga puluh menit Putra semakin gelisah, kepikiran Perempuan yang baru saja dia kenal di stadion, belum percaya apa yang barusan menimpanya. Siapa Perempuan itu? Pertanyaan itu menyelimuti pikirannya. Sesaat kemudian dia putuskan kembali ke stadion menemui Perempuan itu, rasa penasaran mendorongnya. Lorong gang dia lewati, tidak sampai 10 menit dia tiba di muka gang, di seberang stadion.
Kerumunan manusia membuat Putra bertanya-tanya, ada apa ini?, sebentar perhatiannya dia alihkan pandangan ke tempat tadi dia ngobrol dengan Perempuan yang dia temui beberapa saat sebelumnya, tapi pemandangannya sudah berbeda, Perempuan itu tidak ada di sana.
Tak mendapati Perempuan itu, Putra mencoba mendekat ke kerumunan orang-orang. “aduh kasian si Leni, cantik-cantik kok malang benar nasibnya” “iya, semenjak ditinggal pacarnya itu loh” “gak itu juga Mbak, denger-denger dia gila karena diperkosa setahun yang lalu, lah denger-denger juga nih, tiga orang yang biadap itu teman pacarnya, suruhannya biar bisa ninggalin si Leni, soalnya pacarnya itu punya pacar lain anak orang kaya” entah siapa yang memulai, di kerumunan itu semua topik pembicaraan seragam, tentang Leni yang malang. Putra tidak mau rasa penasarannya berlarut, segera dia bergegas menghapiri tubuh yang tergeletak di tengah-tengah kerumunan itu.
Putra tercengang mematung, di sekelilingnya orang-orang tak henti sahut menyahut, ada yang pingin tahu, ada pula yang sok tahu. “katanya tadi Leni itu mengejar mobil sedan yang lewat, dia berteriak memanggil-manggil nama Dion, nah pas dia coba mengejar itu tiba-tiba dari belakang ada Truk Fuso meluncur, aduh ngeri deh”
“apa aku bermimpi?” Putra bertanya pada dirinya sendiri “perempuan itu Leni, malang benar nasibmu, nasibku? entahlah”
Komentar
Posting Komentar